Minggu, 11 Maret 2012

Konjungsi

                                                           Daftar Isi       

Daftar Isi  .....................................................................................................       1
BAB I Pendahuluan
A.    Latar Belakang  ..........................................................................      2
B.     Kajian Pustaka  ..........................................................................       6
BAB II Konjungsi  .......................................................................................      7
BAB III Penutup  ..........................................................................................   18
Daftar Pustaka  .............................................................................................    20














BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Analisis wacana pada hakikatnya adalah sebuah analisis bahasa yang ditujukan untuk mengubah paradigma linguis struktural yang memandang kalimat sebagai unsur bahasa yang terbesar dan terlengkap, baik dari segi struktur, makna, maupun intonasi.
Di dalam analisis wacana monolog terdapat aspek gramatikal yang meliputi: (1) pengacuan, (2) penyulihan, (3) pelepasan, dan (4) perangkaian. Di dalam hal ini kita akan membahas mengenai perangkaian atau konjungsi. Dengan mempelajari konjungsi dengan lebih mendalam, kita dapat menentukan penggunaan perangkaian atau konjungsi. 
Pada pembelajaran bahasa sering kita menemukan pertanyaan mengenai penggunaan perangkaian atau konjungsi dalam cerpen. Dalam penelitian ini, konjungsi merupakan kata perangkai yang menghubungkan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya. Istilah konjungsi itu sendiri secara harfiah mengisyaratkan kata penghubung antar kalimat.
Konsep bahwa konjungsi mengikuti kalimat dalam konstruksi kebahasaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Jika  namanya konjungsi tentu dapat menjadi penghubung antara kalimat satu dengan kalimat lainnya. Jika diikuti secara cermat tampaknya ada dua hal yang ingin disampaikan. Pertama, adanya penggunaan konjungsi di dalam sebuah cerpen. Kedua, mengingatkan para pengguna bahasa agar tidak keliru dalam menggunakan konjungsi.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kekhawatiran mengenai penggunaan konjungsi itu tidak terletak di dalam cerpen saja, melainkan dapat digunakan di dalam sebuah novel maupun drama. Kita dapat memahami dengan cara sanggup mengkategorikan konjungsi dalam penelitian ini. Oleh karena itu, analisis konjungsi pada cerpen “Saya, Mbak Oi dan A Yudi: Sebuah Kisah Cinta” karya Helvy Tiana Rosa perlu dilakukan agar dapat memberikan sumbangan pada pembaca untuk mengembangkan pemahaman pembacaan pada cerpen.
Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970 dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Ia menulis puisi, cerpen, naskah drama, serta berteater sejak SD. Beberapa karya kreatifnya menjuarai berbagai lomba penulisan tingkat nasional.
Tahun 1990, Helvy memelopori berdirinya Teater Bening dan sampai kini bertindak sebagai sutradara serta penulis naskah dalam pagelaran-pagelaran teater tersebut di Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, dan keliling kampus di Jawa dan Sumatra. Tahun 1991-2001, ia menjadi redaktur dan pemimpin redaksi Majalah Annida. Koran Tempo mengatakan Helvy telah mendirikan pabrik penulis cerita saat ia mendirikan Forum Lingkar Pena tahun 1997, organisasi kader penulis yang beranggotakan sekitar 5000 orang dengan cabang di 28 propinsi dan mancanegara.
Sampai saat ini, puluhan bukunya telah terbit. Beberapa cerpennya sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jepang, serta dikomikkan dan disinetronkan. Cerpennya, Jaring-Jaring Merah menjadi salah satu cerpen terbaik Majalah Horison (1990-2000). Bukunya, Lelaki Kabut dan Boneka (Asy Syaamil, 2002) mendapatkan Lingkar Pena Award sebagai kumpulan cerpen terpuji tingkat nasional (2002). Ia pernah mengikuti Short Story’s Writing Program yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (1998), juga pernah mengisi berbagai acara sastra di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Mesir.
Karena prestasi dan kegiatannya, tahun 2000 Majalah Amanah memilihnya sebagai satu dari 10 Muslimah Berprestasi Tingkat Nasional. Republika dan The Strait Times menyebut Helvy sebagai salah satu pelopor fiksi islami kontemporer di Indonesia. Sementara Koran Tempo menyebutnya lokomotif penulis muda Indonesia.
Sejak tahun 1998, Helvy sering diminta menjadi juri dalam berbagai sayembara penulisan tingkat nasional seperti: Literary Khatulistiwa Award (2001), Sayembara Mengarang Tingkat Nasional yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional (2001, 2002), dan sebagainya, termasuk juri lomba penulisan di tingkat internasional seperti dalam Singapore Writer’s Festival 2003.
Kini, istri Tomi Satryatomo dan ibu dari Abdurahman Faiz (7,5 th) masih kuliah di Program Pascasarjana, Jurusan kesusastraan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Ia juga dipercaya sebagai Dewan Pekerja Harian dan anggota Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta. Di tengah itu semua, ia masih sempat mengelola Pondok Cahaya (Pondok Baca dan Hasilkan Karya, tempat bagi anak dan kalangan umum dhuafa membaca dan berlatih menulis secara gratis) bersama teman-temannya.

B.     Kajian Pustaka 
Menurut Djajasudarma (2006:2), Wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa.
Menurut Tannen (2002:1), analisis wacana adalah analisis yang melampaui kalimat oleh karenanya yang dilakukan analisis adalah mengkaji potongan-potongan bahasa yang lebih besar dari sebuah kalimat sebagai satu kesatuan, selanjutnya, untuk mengetahui makna yang utuh yang terkandung dalam rangkaian kalimat itu, analisis harus memperhatikan konteknya.
Menurut Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan.
Menurut Syamsuddin (1998:80), konjungsi merupakan kata perangkai yang menghubungkan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya.
Menurut Asep Muhyidin dalam makalah analisis wacana (2009:9), konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur-unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana.
BAB II
Konjungsi
A.          Konjungsi
Arti wacana adalah ucapan, perkataan, atau tutur. Secara umum, wacana yaitu keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti buku, novel, dan artikel. Wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan tertinggi dalam hierarki gramatikal.
Kata wacana berpadanan dengan kata discourse dalam bahasa Inggris. Pada masa kini, wacana sering digunakan, selain dalam bidang bahasa dan sastra, juga dalam bidang sosiologi, antropologi, politik, dan filsafat. Di luar bidang bahasa dan sastra, lebih sering digunakan kata ’diskursus’ atau dengan kata sifat ’diskursif’. Dalam bidang linguistik, kata ’diskursus’ jarang dipakai dibanding kata ’wacana’ sehingga discourse analysis menjadi ’analisi wacana’. Disiplin ilmu yang mengkaji bahasa yang nyata dalam tindakan komunikasi tersebut disebut analisis wacana.  
Pengertian wacana monolog mencakup bentuk bahasa atau tuturan bahasa lisan atau tertulis yang tidak termasuk ke dalam lingkup percakapan, tanya jawab, teks drama atau film, atau bentuk-bentuk lain yang sejenis seperti yang terdapat pada bentuk wawancara. Yang termasuk ke dalam bentuk wacana monolog ini, antara lain: bahasa wacana, pidato, khutbah, mengajar, atau juga dalam bentuk teks seperti pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita, dengan persyaratan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat atau tuturan yang beruntun dan berkaitan bersadarkan kesatuan isi, tujuan, dan situasinya.
Analisis wacana monolog, pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan dengan analisis wacana dialog, terutama dalam hal prinsip-prinsip dasarnya. Beberapa perbedaan yang menonjol di antaranya menyangkut aspek tatap muka (interlocutors), penggalan pasangan percakapan (adjacency pairs), dan kesempatan berbicara (turn rakings). Aspek-aspek ini tidak terdapat di dalam wacana monolog.
Di dalam analisis wacana monolog terdapat aspek gramatikal yang meliputi: (1) pengacuan, (2) penyulihan, (3) pelepasan, dan (4) perangkaian. Di dalam hal ini kita akan membahas lebih mendalam mengenai perangkaian atau konjungsi. Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur-unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topik. Konjungsi merupakan kata yang mempunyai fungsi menghubungkan kalimat dengan kalimat lain.
Dilihat dari segi maknanya pun, perangkaian unsur dalam wacana mempunyai bermacam-macam makna. Makna perangkaian beserta konjungsi dapat dikemukakan di sini antara lain sebagai berikut.
1.            Sebab-akibat    : sebab, karena, maka, makanya
2.            Pertentangan    : tetapi, namun
3.            Kelebihan          : malah  
4.            Perkecualian      : kecuali
5.            Konsesif            : walaupun, meskipun
6.            Tujuan               : agar, supaya
7.            Penambahan      : dan, juga, serta
8.            Pilihan               : atau, apa
9.            Harapan             : semoga, moga-moga
10.        Urutan               : kemudian, lalu, terus
11.        Perlawanan        : sebaliknya
12.        Waktu                : selesai, sesudah, setelah, ketika
13.        Syarat                : apabila, jika (demikian), apalagi, kalau
14.        Cara                  : dengan begitu
Kata ketika adalah kata hubung yang menghubungkan kalimat pertama dengan kalimat kedua.
Dalam bahasa Indonesia ada banyak konjungsi: sementara, sambil, ketika, sehingga, dan lain-lain.
1.Sementara
- Mempunyai dua subjek yang berbeda.
- Mempunyai aktivitas sama waktu.
2.            Sambil
- Mempunyai satu subjek sama.
- Mempunyai aktivitas sama waktu.
3.            Ketika
- Mempunyai satu atau dua subjek.
- Mempunyai aktivitas yang tidak sama waktu.
4.            Supaya
- Mempunyai satu atau dua subjek.
- Kalimat kedua adalah tujuan (goal/aims) kalimat pertama.
5.            Sehingga
- Mempunyai satu atau dua subjek.
- Kalimat kedua adalah hasil/akibat (effect/result) kalimat pertama.
Ada beberapa ungkapan untuk menyatakan pertentangan konsekuensi logis dalam konjungsi dengan hal yang dinyatakan pada kalimat, misalnya, biarpun demikian, sekalipun begitu, sungguhpun demkian, walaupun demikian, dan meskipun demikian.Selain itu, namun dan akan tetapi juga dapat menyatakan pertentangan yang tidak berkenaan dengan konsekuensi kalimat.
Perlu juga diingat bahwa dalam bahasa baku, konjungsi sebagai penghubung intrakalimat, tidak digunakan sebagai penghubung antar kalimat. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan kelanjutan peristiwa atau keadaan dalam kalimat, contohnya: kemudian, sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya. Ungkapan yang menyatakan adanya hal, peristiwa atau keadaan lain dalam kalimat adalah selain itu, di samping itu, dan tambah pula. Ungkapan yang menyatakan konsekuensi atau hal yang dengan sendirinya terjadinya akibat peristiwa lain adalah dengan demikian. Ungkapan oleh sebab itu dan oleh karena itu yang mirip fungsinya dengan ungkapan dengan demikian digunakan sebagai alasan terjadinya suatu peristiwa.    
B.           Analisis Data
1)      Waktu itu saya sedang berkeliling mencari tempat kost, di sekitar Universitas Indonesia. Kemudian sampailah saya di tempat kost seorang teman. Di sana, saya berkenalan dengan Mbak Oi.
Konjungsi kemudian berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi urutan yang  menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lainnya. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan kelanjutan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
2)      “Di tempat saya masih ada kamar. Rumah Petak, sih, tapi nyaman. Kalau mau, Helvy bisa tinggal bersama kami,” katanya ramah seraya memberitahukan bahwa ada seorang muslimah lain yang juga tinggal bersamanya.
Konjungsi tapi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
3)      Saya segera menyukai Mbak Oi karena keramahan dan ketulusan yang terpancar di matanya.
Konjungsi karena berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi sebab-akibat. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan sebab-akibat peristiwa atau keadaan dalam kalimat. Sedangkan konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.
4)      Setiap malam kami bangun bersama untuk munajat kepada-Nya dalam gelap. Setelah itu, sambil tilawah Quran, Mbak Oi setia menemani saya duduk berlama-lama, mentik dengan mesin tik tua yang saya bawa dari rumah, hingga subuh menjelang.
Konjungsi setelah berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
5)      Saya pun sudah bergabung di sebuah majalah Islam bernama Annida dan sering menulis di majalah tersebut dengan nama Al Hamasah. Namun, saya belum menjadi penulis yang produktif, apalagi dikenal.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan. Konjungsi namun berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
6)      “Insya Allah, Mbak. Tapi menurut Mbak Oi, nama pena Al Hamasah bagus nggak, sih?”
Konjungsi tapi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
7)      “Bagus, Dik. Nama itu tepat untukmu. Artinya ’yang bersemangat’, kan? Ya, seperti kamu yang selalu bersemangat dalam mengerjakan kebajikan! Termasuk menulis!” kata Mbak Oi. “Tapi pakai nama sendiri juga bagus, kok,” sambungnya lagi.
Konjungsi tapi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat. Sedangkan, konjungsi juga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi penambahan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan penambahan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
8)      Mbak Oi hanya setahun kost bersama saya. Namun, silaturahmi kami tidak pernah putus.
Konjungsi namun berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
9)      Malam itu, Mbak Oi menginap di kost saya dan bercerita tentang Yudi, lelaki bijak yang berusia lebih muda darinya.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.
10)  Hubungan kami bertambah akrab, meski kami mulai jarang bertemu.
Konjungsi meski pada kalimat menghubungkan secara kosesif antara klausa hubungan kami bertambah akrab dengan klausa kami mulai jarang bertemu.
11)  “Lumayan, Mbak, selain bisa menyampaikan keindahan islam, aku juga dapat honor buat tambahan kuliah,” kata saya sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di ruang tamu.
Konjungsi juga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi penambahan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan penambahan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
12)  Saya menggeleng. “Susah, Mbak. Mereka juga butuh untuk membuat makalah.”
konjungsi juga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi penambahan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan penambahan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
13)  Komputer? Uang dari mana? Ya, mungkin beberapa tahun lagi. Mungkin kelak ketika saya punya suami, baru saya bisa membeli komputer.
Konjungsi kelak dan ketika berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
14)  Malam itu, usai Mbak Oi dan A Yudi pulang, saya ’berkelahi’ dengan mesin tik tua saya yang tidak mau kompromi itu. Tapi, ta satu pun cerita selesai.
Konjungsi tapi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
15)  Tanpa saya duga, beberapa hari setelah itu, Mbak Oi dan Aa Yudi datang ke kost saya.
Konjungsi setelah berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
16)  Tidak biasanya Mbak Oi memberi saya bingkisan seperti itu. Apalagi saya tahu ia seorang yang hidup sederhana.
Konjungsi apalagi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi syarat. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan syarat peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
17)  “Pokoknya benda ini digunakan untuk kemaslahatan umat, ya, dan tidak usah dikembalikan,” ujar Mbak Oi lagi.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.
18)  Saya belum membuka bingkisan dari Mbak Oi dan Aa Yudi itu hingga mereka pulang. Namun rasa penasaran saya terus berkecamuk.
Konjungsi namun berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
19)  Dan, siapakah saya? Saya bahkan belum benar-benar menjadi penulis, mengapa mereka mengambil resiko memberikan benda berharga ini pada saya? Bukankah mereka juga membutuhkannya? Berapa dana yang mereka keluarkan untuk ini? Sedang mereka hidup dengan sederhana?
Konjungsi juga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi penambahan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan penambahan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
20)  Setelah hari itu, saya merasa harus terus menulis.
Konjungsi setelah berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
21)  Malu rasanya melalui hari tanpa menulis. Apalagi laptop pemberian Mbak Oi dan Aa Yudi selalu tersedia di meja di sudut ruang tamu kost saya.
Konjungsi apalagi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi syarat. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan syarat peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
22)  Cerita “Mc Alliester” dan  “Akira” saya selesaikan dengan laptop itu. Juga  ratusan cerpen lain yang akhirnya dipublikasikan maupun yang hingga saat ini masih saya simpan.
konjungsi juga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi penambahan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan penambahan peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
23)  Buku saya satu persatu terbit dan saya mulai mendapatkan beberapa penghargaan dari apa yang sudah saya lakukan.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.
24)  Ketika teman itu selesai, ia meminjamkan pada teman yang lainnya, begitu seterusnya dan seterusnya. Hingga kini, tak diketahui dengan pasti keberadaan laptop itu.
Konjungsi ketika dan hingga berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
25)  Tetapi, satu yang saya tahu dengan pasti, kini, setelah sepuluh tahun berlalu, saya tidak pernah melupakan Lolita Damayanti dan Yudi Iswahyudi-anggota Partai Keadilan-yang hidup sederhana di rumah mungil mereka di Bilangan Kelapa Dua, Depok, bersama anak-anak mereka yang lucu, yang salah satunya bernama Al Hamasah.
Konjungsi tetapi berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi pertentangan. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan pertentangan peristiwa atau keadaan dalam kalimat. Sedangkan, konjungsi setelah berfungsi sebagai makna perangkaian atau konjungsi waktu. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan waktu peristiwa atau keadaan dalam kalimat.
26)  Ya, mereka telah meninggalkan sesuatu yang dalam di hati saya yang rasanya tak akan pernah bisa saya ungkapkan dan saya tulis dengan sempurna.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.
27)  Ya, Allah, saya bahkan belum pernah menyatakan terima kasih dan cinta saya yang paling sungguh pada mereka.
Konjungsi dan berfungsi menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kiri dengan klausa yang berada di sebelah kanan. Konjungsi dan pada kalimat tersebut menyatakan penambahan.















BAB III
Penutup

Wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan tertinggi dalam hierarki gramatikal. Dalam bidang linguistik, kata ’diskursus’ jarang dipakai dibanding kata ’wacana’ sehingga discourse analysis menjadi ’analisi wacana’. Disiplin ilmu yang mengkaji bahasa yang nyata dalam tindakan komunikasi tersebut disebut analisis wacana. 
Yang termasuk ke dalam bentuk wacana monolog ini, antara lain: bahasa wacana, pidato, khutbah, mengajar, atau juga dalam bentuk teks seperti pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita, dengan persyaratan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat atau tuturan yang beruntun dan berkaitan bersadarkan kesatuan isi, tujuan, dan situasinya. Di dalam analisis wacana monolog terdapat aspek gramatikal yang meliputi: (1) pengacuan, (2) penyulihan, (3) pelepasan, dan (4) perangkaian atau konjungsi. Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur-unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topik.
Ada beberapa ungkapan untuk menyatakan pertentangan konsekuensi logis dalam konjungsi dengan hal yang dinyatakan pada kalimat, misalnya, biarpun demikian, sekalipun begitu, sungguhpun demkian, walaupun demikian, dan meskipun demikian.Selain itu, namun dan akan tetapi juga dapat menyatakan pertentangan yang tidak berkenaan dengan konsekuensi kalimat. Ungkapan penghubung antar kalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakan kelanjutan peristiwa atau keadaan dalam kalimat, contohnya: kemudian, sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya. Ungkapan yang menyatakan adanya hal, peristiwa atau keadaan lain dalam kalimat adalah selain itu, di samping itu, dan tambah pula. Ungkapan yang menyatakan konsekuensi atau hal yang dengan sendirinya terjadinya akibat peristiwa lain adalah dengan demikian. Ungkapan oleh sebab itu dan oleh karena itu yang mirip fungsinya dengan ungkapan dengan demikian digunakan untuk merujuk pertanyaan sebelumnya sebagai alasan terjadinya suatu peristiwa.   


 Daftar Pustaka

Hayon, Josep. 2003. Membaca dan Menulis Wacana. Jakarta: Storia Grafika.
Muhyidin, Asep. 2009. Makalah Analisis Wacana. Banten: FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Rosa, Helvy Tiana. 2004. Bukan Di Negeri Dongeng Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
Sugono, Dendy. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Suherlan dan Odien R. 2003. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya. Banten: Untirta Press.
Supriyadi. 1996. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 2. Jakarta :Universitas Terbuka.
Syamsuddin, A.R. 1998. Studi Wacana Teori-Analisis-Pengajaran. Bandung: Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni FPBS IKIP Bandung. 
www: andreyuris.wordpress.com

1 komentar: