Minggu, 11 Maret 2012

Membaca 2


  1. Membaca
Membaca dapat dilakukan dengan teknik bersuara dan tidak bersuara. Teknik tersebut ditempuh, tergantung dari tujuan apakah yang ingin kita capai serta pembacaan itu untuk siapa. Jika tujuannya untuk menyampaikan informasi, nasehat, cerita dan nilai-nilai literir untuk orang lain, serta melatih kejelasan dan kefasihan vocal, ketepatan intonasi dan penjelasan mak kita pakai teknik membaca bersuara. Jika kita membaca dengan orientasi diri sendiri, bisa memahami bacaan secara intens sehingga meningkat perbendaharaan ilmu pengetahuan kita, kita tempuh dengan teknik membaca dalah hati atau tanpa suara.
Ø  Jenis-jenis informasi ada tiga yaitu:
1)      Informasi Grafonik, yakni informasi yang menyangkut hubungan antara lambang-lambang grafis dan bunyi bahasa. 
2)      Informasi Sintaksis, yakni informasi yang berkenaan dengan hal-hal implisit di dalam struktur gramatikal bahasa.
3)      Informasi Semantik, yakni informasi yang mengarah pada aspek terpenting yang merupakan esensi mambaca yaitu pemahaman makna.
Menurut objek yang dibaca membaca dibagi dua yaitu membaca teks dan membaca semesta. Membaca yang menggunakan naskah atau karya tulis sebagai objek kajian dinamakan membaca teks. Membaca semesta yaitu membaca yang menggunakan alam semesta sebagai objek pembacaan. Kegiatan membaca semesta adalah kegiatan melihat, mengamati, menyelidiki, menilai dan memetik hikmah segala fenomena alam dan peristiwa baik yang suka cita maupun yagn mengharukan dan menggetarkan.

  1. Jenis-Jenis Membaca Yang Perlu Dikembangkan Di Dunia Keilmuan
Ø  Jenis-jenis membaca dalam dunia ilmu pengetahuan dan kesusastraan yaitu:
1)      Membaca Intensif. dianggap sebagai salah satu kunci perolehan ilmu pengetahuan karena penitiktekanan adalah persoalan pemahaman yang mendalam, pemahaman ide-ide naskah dari ide pokok sampai ide-ide penjelas, dari hal-hal yang global sampai hal-hal yang rinci, sampai kerelung-relungnya.
2)      Membaca Kritis. merupakan tahapan lebih jauh daripada membaca intensif dan dianggap sebagai kegiatan membaca yang bertataran paling tinggi.
3)      Membaca Cepat. Keterampilan membaca cepat ini penting kita kuasai  berkenaan dengan perolehan informasi-informasi keseharian, seperti berita dan reportase atau laporan utama di media massa.
4)      Membaca Apresiatif dan Membaca Estetis. Dua kegiatan membaca agak bersifat khusus karena lebih berhubungan dengan nilai-nilai efektif dan faktor intuisi atau perasaan.
5)      Membaca Teknik. Membaca jenis ini perlu dilafalkan hanya pelafalannya lebih bersifat formal dan mementingkan kebenaran pembacaan serta ketepatan intonasi dan jeda.
  1. Manfaat Banyak Membaca
Aktifitas membaca merupakan kebutuhan manusia berbudaya dalam rangka meningkatkan wawasan berpikir dan memperluas pengetahuan.
Menurut Tarigan bahwa membaca merupakan alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat berbudaya (1982: 1)
Menurut Ahmad S. Harjasujana berpendapat bahwa di dalam kegiatan membaca, pembaca menerjemahkan lambang-lambang grafis wacana ke dalam makna tertentu.
Pada umumnya, model-model proses membaca yang ada dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori di dalam dunia membaca disebut Bottom-Up, Top-Down, dan Interaksi.
 Bottom-Up penerjemahan berhubungan dengan pengenalan huruf atau kata kemudian beralih pada peninggalan unit-unit bahasa yang lebih besar dan berakhir dengan pengenalan makna.
Top-Down penerjemahan bermulai dari dalam pikiran pembaca yang membuat hipotesis dan dugaan tentang makna suatu unit bacaan.  
Interaksi disusun berdasarkan pada asumsi bahwa kedua macam proses harus bersifat interaktif.
  1. Tingkat Membaca Pemahaman
Menurut Smith dan kawan-kawan mengkatagorikan keterampilan-keterampilan pemahaman menjadi empat tignkatan yaitu literal, interpretatife, kekritisan dan kreatif.
  1. Tingkat Literal (Harfiah)
Tingkat Literal merupakan tingkat yang paling sederhana. Para siswa melakukan sesuatu yaitu menghasilkan kembali fakta-fakta yang telah dihubungkan oleh penulis. Keterampilan yang diperlukan pada tingkat pemahaman yaitu data faktual, sekuensi, kronologis, dan enumerasi.
  1. Tingkat Interpretatife
Para siswa diharapkan dapat memperoleh informasi yang disajikan penulis (berdasarkan kompetensi pada tingkat literal) dan memahami data penting berupa hubungan sebab akibat, hubungan khusus ke umum, membuat perbandingan, menarik kesimpulan dan membuat rampatan.
  1. Tingkat Kekritisan
Para siswa diharapkan dapat belajar dan mengevaluasi dan menilai keterangan-keterangan yang disajikan penulis. Keterampilan yang harus dimiliki para siswa adalah:
(a) Dapat membuktikan penyimpangan-penyimpangan penulis.
(b) Dapat mengkualifikasi.
(c) Dapat memberikan pandangannya.
(d) Memahami maksud penulis.
(e) Dapat membenarkan.
(f) Dapat menetapkan keterangan yang terkandung 
  1. Tingkat Kreatif
Tingkat kreatif merupakan tingkatan yang menghendaki keterlibatan siswa yang berkenaan dengan informasi yang dipresentasikan ketika ia menggunakan untuk merumuskan atau memikirkan kembali ide-idenya.
Ø  Cara Atau Teknik Membaca Pemahaman
Sebelum membaca dipersiapkan empat pertanyaan dasar menurut Mortimer J. Adler (1996: 26-27) yaitu:
a)            Tentang apa keseluruhan buku itu?
b)            Apa yang dikatakan penulis dan bagaimana dia mengatakannya?
c)            Apakah buku itu benar keseluruhannya atau sebagian saja?
d)           Apakah buku itu penting?
Ø  Mengatur Kemampuan Pemahaman
Manfaat membaca yaitu:
1)      Menambah perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan kita.
2)      Meningkatkan intelektualitas atau kecerdasan serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita.
3)      Memperkaya kosakata kita, menambah pendaharaan ungkapan-ungkapan yang tepat, benar dan puitis.
4)      Memperluas cakrawala pikir dan pandang, meningkatkan penghayatan hidup yang lebih dalam serta membina iklim keterbukaan dan objektivitas.
5)      Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
6)      Meningkatkan cita rasa artistik, jika kita baca merupakan bacaan-bacaan yang isinya halus dan bahasanya indah.
7)      Menignkatkan kesadaran moral kemanusiaan, penghayatan nilai-nilai religius, jika kita tekuni adalah karangan-karangan berdimensi metafisika.
8)      Menggugah kreativitas dan semangat mencipta kita untuk mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang berprinsip dan berjati diri.
Ø  Ciri-Ciri Bacaan Yang Baik
1)      Bacaan itu menyampaikan nilai kehidupan tertentu.
2)      Bacaan itu mempunyai kader intelektualitas tertentu, mengajak pembacanya aktif berpikir dan merenungkan kehidupan ini.
3)      Bacaan itu mempunyai sifat edukatif.
4)      Bacaain itu bersifat inovatif, baik dalam ide-ide maupun pilihan kata-katanya, mengedepankan sesuatu yang baru serta memancarkan dan  memancarkan semangat kreativitas.
5)      Bacaan itu bersifat otentik, ada unsur orisinalitas, dan keunikan atau kekhasan di dalamnya, tidak imitasi atau pulasan atau tidak pula berbohong.
6)      Bacaan itu menyampaikan ide-ide secara runtut, komunikatif dan cukup efektif, tidak acak-acakkan, tidak membingungkan dan tidak terlalu mudah.
7)      Cukup etis, menjauhi pornografi dan kevulgaran.
8)      Berwawasan luas serta membahas suatu persoalan secara intensif dan mendalam.
9)      Punya selera artistik tertentu lebih-lebih kalau bacaan itu karya sastra.
10)  Bersifat inspiratif.
Ø  Membaca yang baik adalah membaca dengan:
1)      Sikap mental dan sikap nalar yang baik. Perwujudan ketentuan itu adalh membaca dengan:
a.       Penuh konsentrasi dan kesungguhan.
b.      Pikiran akltif mencerna.
c.       Perasaan aktif menghayati.
d.      Perasaan senang hati atau ceria.
e.       Motivasi yang kuat misalnya menjadi pandai, menemukan nilai-nilai kehidupan.
f.       Sabar, tidak tergesa-gesa, tetapi tidak kelewat santai.
g.      Membaca secara terpola, yakni membaca secara teratur, urut dari yang mudah sampai yang sukar, dari yang sederhana sampai yang rumit secara kronologis.
2)      Sifat fisik yang baik dengan jarak mata dengan kertas kurang lebih 30 cm, membentuk sudut 30 sampai 45 derajat kearah bawah didukung oleh teknik tertentu yang praktis.
3)      Bahan yang baik yakni bahan yang memberi makna kepada kehidupan, misalnya:
a.       Menyebabkan kita bertambah ilmu dan kepandaian.
b.      Menambah pengetahuan dan pengalaman hidup kita.
c.       Menyebabakan kita tambah memahami kehidupan dan nilai-nilai moral.
d.      Menambah keluasan kosakata dan kedalaman pengalaman estetik.
4)      Bahan yang banyak dan beraneka-ragam.
Ø 
Jumlah kata yang di baca
                                                X 60 = jumlah kpm (kata per menit)
Jumlah detik untuk membaca
 
Kecepatan membaca
 


Ø  Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan bermacam-macam sesuai dengan bahan yang dihadapi dan keperluannya. Umumnya dapat dirinci sebagai berikut:
1)      Membaca secara skimming dan scaning (kecepatan lebih 1.000 kpm).
2)      Membaca dengan kecepatan tinggi (500-800 kpm).
3)      Membaca secara cepat (350-500 kpm).
4)      Membaca dengan kecepatan rata-rata (250-350 kpm).
5)      Membaca lambat (100-125 kpm).
Sistem Membaca SQ3R
Sistem Membaca SQ3R dikemukakan Francis P. Robinson tahun 1941 merupakan sistem membaca yang semakin populer digunakan orang. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah:
Langkah 1: S-Survey
      Survey atau prabaca adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan maksud untuk:
1)      Mempercepat menangkap arti.
2)      Mendapatkan abstrak.
3)      Mengetahui ide-ide yang penting.
4)      Melihat susunan bahan bacaan tersebut.
5)      Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
6)      Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Langkah 2: Q-Question
      Pada saat survey ajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan itu dengan mengubah judul dan subjudul serta sub dari subjudul menjadi suatu pertanyaan.
      Langkah 3: R-Read
      Pada tahap membaca ini ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:
(1) Jangan membuat catatan-catatan. (2) Jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata maupun frase tertentu bisa jadi setelah anda selesai membaca acap kali ternyata anda salah memilihnya.
      Langkah 4: R-Recite atau Recall
      Setiap selesai membaca suatu bagian berhentilah sejenak dan cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan bagian itu atau menyebutkan halhal penting dari bab itu.
      Langkah 5: R-Review
      Setelah selesai keseluruhan dari apa yang harus dibaca, ulangi untuk menelusuri menemukan pokok-pokok penting yang perlu untuk diingat kembali.

Ø  Sastra sebagai karya yang bersifat fiksi memiliki sifat imajinatif, subjektif, dan komunikatif, imajinatif artinya apa yang disampaikan dalam sastra bersifat khayalan tetapi sastra bersifat realitas meskipun minoritas. Subjektif artinya para sastrawan dalam mengembangkan ide gagasan sangat individual sasuai dengan keinginan, kesenangannya. Sedangkan konotatif artinya kata-kata yang dipakai dalam sastra bermakna yang tidak sebenarnya menimbulkan poly interpretable.
Ø  Penulisan dalam proposal penelitian tindakan kelas (PTK) mengambil judul “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi Pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Pandeglang”

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah:
  1. bagaimanakah cara membaca puisi yang baik?
  2. apakah unsur-unsur yang perlu diperhatikan oleh pembaca puisi?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
1.      ingin mengetahui seberapa besar minat siswa pada bidang sastra, terutama puisi.
2.      ingin mengetahui kemampuan siswa membaca puisi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.      ingin mengetahui cara membaca puisi yang baik.
2.      ingin mengetahui unsur yang perlu diperhatikan pembaca puisi.
1.4 Manfaat penelitian
1. Bagi guru: menambah pengetahuan tentang taat cara penulisan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang baik sesuai sistematika serta mengetahui tata cara membaca puisi yang baik dan benar.  
2. Bagi siswa: berlatih membaca puisi yang baik dengan memperhatikan intonasi, pelafalan, mimik, gester dan penghayatan.
KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
2.1 Pengertian Poetry Reading (baca puisi)
Pengertian Poetry Reading atau membaca puisi menurut para ahli yaitu:
1. Baca puisi adalah kegiatan mengeja, melafalkan, mengetahui isi puisi secara cermat dan sistematis. (KBBI, 1998: 62).
2. Baca puisi adalah pengungkapan sintesis bahasa semurni-murninya yang telah tersaring berbagai proses yang mencari hakekat pengalaman tersusun secara korespondensi dalam salah satu bentuk bahasa. (Semi, 1988: 93).
3. Baca puisi adalah mengungkapkan secara lisan kalimat-kalimat puisi untuk menimbulkan efek atau makna lain. (Suroto, 1990: 188).
4. Baca puisi adalah melisankan puisi sebagai bentuk pengungkapan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin. (Waluyo, 1991: 25).
Ø  Jadi kesimpulan para ahli tentang baca puisi (poetry reading) adalah kegiatan melisankan, melafalkan puisi dengan cermat agar dapat menimbulkan efek atau makna lain sebagai bentuk pengungkapan pikiran dan perasaan penyair.
2.2  Tujuan Baca Puisi
Tujuan membaca puisi yaitu:
1.      untuk mengetahui dan memahami isinya.
2.      untuk menimbulkan keindahan bacaan.
Ø  Untuk memahami dan menghayati puisi perlu memerhatikan hal-hal berikut:
  1. bacalah puisi dua atau tiga kali.
  2. upayakan untuk memenggal baris puisi secara tepat.
  3. perhatikan tanda baca secara cermat.
  4. puisi kadang-kadang tidak menggunakan tanda baca.
  5. dalam baca puisi tidak harus menghentikan bacaan pada tiap baris.
  6. untuk memahami bacaan puisi tidak lepas dari nilai rasa maupun arti kata itu sendiri.
  7. kalau tujuan baca puisi demi keindahan maka hal-hal yang terdapat pada cara baca puisi perlu diperhatikan. (Suroto, 1990: 188-189).
2.3 Unsur-unsur Baca Puisi
Agar hasil pembacaan puisi baik maka perlu memperhatikan unsur-unsur baca puisi yaitu:
  1. pelafalan yaitu cara seseorang mengungkapkan bunyi bahasa atau mengungkapkan kata.
  2. intonasi yaitu lagu kalimat.
  3. gester adalah gerakan anggota tubuh atau badan sesuai dengan isi puisinya, bertujuan agar pembacaan puisi menarik dan isi atau pesan yang disampaikan mudah dipahami pendengar.
  4. penghayatan adalah merasakan sesuatu, mengalami dan seolah-olah ikut terlibat dan larut dalam pemahaman puisi yang dibacanya.
  5. mimik adalah perubahan raut muka sesuai dengan isi puisi yang dibacanya dan berkaitan erat dengan penghayatan.
2.4 Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah:
  1. pada umumnya cara pembacaan puisi pada siswa kelas XII SMAN 3 Pandeglang kurang baik.
  2. pemahaman unsur-unsur pembacaan puisi siswa kelas XII SMAN 3 Pandeglang masih kurang.
Ø  PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN MEMBACA 1 YAITU:
  1. membaca itu merupakan proses bahasa. Anak yang sedang belajar membaca harus paham akan hubungan antara membaca dan bahasannya.
  2. pengajaran membaca harus membuat anak paham bahwa membaca harus menghasilkan pengertian.
  3. belajar membaca merupakan proses perkembangan yang lama dan merentang bertahun-tahun.
  4. tidak boleh ada anak yang dipaksa membaca materi yang sukar. 
  5. para pengajaran membaca, siswa harus membca atau sibacakan sessuatu yang memikat pikirannya.
  6. belajar membaca merupakan proses yang rumit yang peka terhadap berbagai tekanan.
  7. perbedaan anak harus merupakan kepedulian utama dalam pelajaran membaca.
  8. pengajaran membaca yang baik bergantung pada diagnosis kemampuan membaca anak pada kelemahannya dan pada kebutuhannya.
  9. diagnosis yang terbaik pun tidak bermanfaat kecuali kalau digunakan sebagai pedoman untuk pengajaran.
  10. teknik, praktik, atau prosedur tertentu dapat bekerja lebih baik untuk beberapa orang anak daripada untuk anak-anak yang lain.
  11. anak harus memperoleh cara mendapat kebebasan sedini-dininya untuk mengidentifikasi kata yang artinya dikenal tetapi tidak dikenal sebagai kata pintas.
  12. konsep mengenai kesiapan membaca harus diperluas ke atas sampai pada semua tingkatan.
  13. pembelajaran membaca harus ditekankan pada penjagaan daripada pada penyembuhan. Masalah membaca harus diketahui sejak dini dan dibetulkan sebelum memburuk pada penyakit gagal-frustasi-reaksi.
  14. anak yang luar biasa kemampuannya harus dimasukkan ke dalam kelas pengajaran membaca yang umum.
  15. anak yang berbeda budaya dan bahasanya harus ditempatkan pada program membaca dan tidak boleh dipaksa mencapai tuntutan kurikulum.
  16. pengajaran membaca harus merupakan aktivitas yang terorganisasi, sistematis dan menghasilkan pertumbuhan.
  17. penentuan materi pengajaran harus dipengaruhi filsafat pengajaran sekolah.
  18. kunci keberhasilan pengajaran membaca adalah guru.
Ø  PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN MEMBACA 2 YAITU:
  1. membaca itu merupakan kegiatan yang kompleks dengan banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
  2. membaca itu menafsirkan arti lambang tercetak.
  3. membaca itu mengkonstruksi arti suatu bagian buku.
  4. tidak ada cara mengajarkan membaca yang benar.
  5. belajar membaca merupakan suatu proses berlanjut.
  6. siswa harus belajar terampil mengenal kata yang akan membuatnya mudah mengucapka dan memberi makna pada kata-kata yang tidak akrab itu secara bebas.
  7. guru harus memeriksa kemampuan membaca setiap anak dan menggunakan hasil pemeriksaan itu sebagai dasar untuk merencanakan pengajarannya.
  8. membaca dan pengajaran bahasa lainnya mempunyai hubungan yang erat.
membaca itu merupakan integrasi dari semua pengajaran mata pelajaran dalam suatu rencana pendidikan.    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar