Sabtu, 03 November 2012

Jenis-jenis Frasa


Jenis-jenis Frasa
Dilihat dari kedudukan unsur yang membentuknya, dibedakan adanya tiga macam frasa yaitu: (i) frasa setara, (ii) frasa bertingkat, dan (iii) frasa terpadu.
(a) Frasa setara
      Frasa setara adalah frasa yang berkedudukan dua unsur pembentuknya memiliki derajat yang sama. Yang satu tidak tergantung pada yang lain sehingga keduanya dapat menggantikan kedudukan frasa itu di dalam kalimat. Misalnya, frasa ayah ibu pada kalimat berikut:
Menurut kabar dari kampungku ayah ibu telah dua hari mengungsi.
(b) Frasa bertingkat
      Frasa bertingkat adalah frasa yang berkedudukan kedua unsur pembentuknya memiliki hubungan yang tidak setara atau tidak sama. Unsur yang satu kedudukannya sangat penting sehingga tidak dapat ditanggalkan sedangkan unsur yang lain kedudukannya hanya merupakan penjelas saja atau hanya sebagai tambahan. Misalnya, frasa sudah membuat pada kalimat berikut:
Suharsih membuat sarapan pagi untuk suaminya.
(c) Frasa terpadu.
      Frasa yang kedudukan kedua unsurnya tidak dapat ditanggalkan sama sekali. Kalau salah satu unsurnya ditanggalkan maka makna kalimatnya tidak berterima. Misalnya, frasa ke Bandung pada kalimat berikut:
      Mahasiswa PGTK Untirta akan ke Bandung untuk melakukan studi banding dengan PGTK UPI.
Frasa dapat dibedakan jenisnya berdasarkan tipe strukturnya yaitu: (i) frasa endosentrik, (ii) frasa eksosentrik.
(a)    Frasa endosentrik
Frasa endosentrik merupakan frasa yang salah satu unsur atau  komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Letak atau posisi komponen inti dapat di depan, misalnya pada frasa istri setia, rumah bagus, pelari cepat, dan penjahat kambuhan; dapat pula di belakang, misalnya pada frasa lebih jauh, sangat liar, sebuah kenangan, sedang mengajar, dan benci sekali.
Frasa endosentrik terbagi menjadi tiga bagian yakni frasa endosentrik atributif, frasa endosentrik koordinatif, dan frasa endosentrik apositif.
(1) Frasa Endosentrik Atributif
            Frasa ini memiliki unsur-unsur yang tidak setara dan salah satu unsurnya merupakan pusat, yakni unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frasa dan secara semantik merupakan unsur terpenting dan unsur yang lainnya berfungsi sebagai atribut. Misalnnya, mahasiswa rajin, perpustakaan umum, anak nakal, dara cantik, rumah besar.   
(2) Frasa Endosentrik Koordinatif
            Frasa jenis ini merupakan frasa yang unsur-unsurnya berkedudukan setara dan berkemungkinan dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, misalnya, dan, atau, tetapi (konjungsi tunggal) atau konjngsi terbagi, seperti seperti baik…baik, makin…makin, baik…maupun. Misalnya suami istri, pendidikan dan pelatihan, ayah ibu, makin cepat makin baik, dan baik sekarang maupun nanti.
(3) Frasa Endosentrik Apositif
            Frasa jenis ini ditandai oleh kedua komponennya yang saling merajuk dan urutannya dapat dipertukarkan. Sebenarnya unsur-unsur pembentuk frasa endosentrik apositif memiliki kandungan informasi yang sama. Dengan kata lain, baik unsur pertama maupun kedua bersifat menegaskan sesuatu. Misalnya Siti Suharsih, anak Bupati Serang, kemarin sore melahirkan anaknya yang kelima di Rumah Sakit Umum Serang.
 (b) Frasa eksosentrik      
      Jenis frasa ini merupakan frasa yang dibentuk oleh unsur-unsur yang memiliki peran sintaksis yang tidak sama dengan keseluruhannya. Misalnya pada kalimat dibawah ini:
      Para dosen FKIP Untirta sedang berseminar di gedung Sucofindo Cilegon.
                  S                                              P                                  K
Berdasarkan fungsi dan jenisnya (chaer, 1998) atau berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata (Ramlan, 2001) frasa dapat dibedakan menjadi: (i) frasa benda, (ii) frasa kerja, (iii) frasa sifat, (iv) frasa depan, (v) frasa keterangan. Pola penamaan struktur frasa berupa istilah Diterangkan (D) sebagai unsur pusat/inti dan istilah yang Menerangkan (M) sebagai unsur penjelas atau atribut.   
(a)    Frasa Benda
Frasa benda merupakan frasa yang unsur utama atau intinya (D) merupakan kata benda seperti frasa laporan pertanggungjawaban presiden, sandiwara murahan, dan rakyat jelata.
Frasa benda terdiri atas tiga macam yaitu: (i) frasa benda setara, (ii) frasa benda bertingkat, dan (iii) frasa benda terpadu.  
(1) Frasa Benda Setara
         Merupakan frasa yang terbentuk oleh dua kata benda yang makna atau kedudukan kedua buah benda itu berada pada bidang yang sama sehingga menyatakan makna himpunan atau kumpulan, misalnya meja kursi, semen pasir, garpu sendok, kasur bantal dan kain baju.   
(2) Frasa Benda Bertingkat
         Merupakan frasa yang dibentuk dari dua buah unsur; unsur pertama berupa sebuah kata benda menjadi inti frasa (D) yang kedudukannya tidak dapat ditanggalkan dan unsur keduanya (M) dapat berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata keterangan yang menjadi unsure penjelas. Misalnya bubur ayam                     sebuah bintang.
                                 D         M                        M           D
(3) Frasa Benda Terpadu
         Merupakan frasa yang dibentuk oleh unsur-unsur yang secara bersama-sama membentuk kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya ke kebun binatang, di ITB, dengan sempurna, dan dari kampus UGM.
(b)   frasa kerja
Merupakan frasa yang terdiri atas dua unsur yakni unsur (D) dan unsur (M). unsur D sebagai unsur inti berupa unsur yang berkelas verba dan unsur M berkelas keterangan. Frasa kerja biasanya mengisi fungsi predikat di dalam kalimat. Perhatikan contoh berikut:
sedang membaca         tidak pergi                  hanya duduk
   M           D                  M       D                         M        D
mandi pagi                  tidur siang                   menonton televisi
    D     M                        D      M                           D           M
(c) frasa sifat
Merupakan frasa yang terdiri atas dua unsur yakni unsur D dan unsur M. unsur D sebagai inti berkelas adjektif dan unsur M yang berupa keterangan. Frasa sifat biasanya menempati unsur predikat di dalam kalimat. Perhatikan contoh berikut:
      sangat jujur paling murah ramah sekali.
         M      D         M         D         D    M
(d)   Frasa Preposisi
Merupakan frasa yang terdiri atas unsur pertama berupa kata depan dan unsur kedua berupa kata benda atau frasa benda. Frasa preposisi biasanya menjadi unsur keterangan dalam kalimat dan tidak terdapat unsur D maupun M. Unsur-unsur yang membentuk frasa preposisi secara bersama-sama membentuk satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisahkan. Perhatikan contoh berikut:
Rendi bermaksud pergi membeli beberapa buku puisi ke Jakarta.
   S                               P                                  O                     K
            Menurut macam strukturnya, frasa terdiri atas (1) frasa eksosentris, seperti ke bank, tentang hal itu, dari ibu kota, (2) frasa endosentris. Frasa endosentris terbagi menjadi: (a) frasa endosentris berinduk satu seperti baju renang, mahal sekali dan (b) frasa endosentris berinduk ganda seperti ibu bapak saya, anak cucu nenek, selalu maju mundur.
            Menurut struktur internnya, frasa endosentris berinduk satu dibagi menjadi: (1) frasa nominal seperti rumah mewah, perkampungan asri, perampok sadis, (2) frasa verbal seperti akan berbelanja dan sedang menabung, (3) frasa adjektiva seperti paling pintar, lebih sopan, sungguh menawan, (4) frasa adverbial seperti oleh cangkul, dengan hati-hati.
            Menurut struktur internnya, frasa endosentris berinduk ganda dapat berupa (1) frasa koordinatif yang konstituen-konstituennya berlainan referensinya, misalnya ibu bapak, tua muda, maju mundur, jual dan beli, murah dan awet. (2) frasa apositif yang konstituen-konstituennya bersamaan referensinya seperti kami, warga kampung pintu air…; Pak Mahfudin, Kepala TU….; dan di sini, di kampus Untirta.
(e)    frasa keterangan
Merupakan frasa yang lazimnya di dalam kalimat menjadi pengisi fungsi keterangan (K). Frasa keterangan terdiri atas dua unsur yakni unsur pertama berupa kata penghubung dan unsur kedua berupa kata keterangan atau kata-kata lain. Misalnya, dengan angkuh, sambil was-was, secara diam-diam, dan karena malu. Frasa keterangan tidak memiliki unsur D dan unsur M karena unsur-unsur pembentuk frasa keterangan secara bersama-sama membentuk satu kesatuan bahasa yang tidak dapat dipisahkan.
Selain itu, terdapat jenis-jenis frasa lainnya di antaranya: a) frasa posposisi, b) frasa preposposisi, c) frasa keajentifan/penindakan, d) frasa adverbial.
a) Frasa posposisi
    Frasa posposisi adalah frasa yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Contohnya: Saya berbicara dengan seorang teman.
      b) Frasa preposposisi
 Frasa preposposisi adalah frasa yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang. Contoh: dari Bandung, dari Ladang.
c) Frasa keajentifan/penindakan
Dalam frasa ini, nomina induk adalah nomina devernal, artinya nomina yang diderivasikan dari verba, dan dengan demikian dapat membawa arti keanjentifan atau penindakan. Keanjentifan dalam konteks ini berarti bahwa nomina diderivasikan dari verba transitif dan penindakan bila diderivasikan dari verba intransitif. Contoh: induk transitif, misalnya penulisan surat; penerbitan buku, dan induk intransitif, misalnya kedatangan tamu, keberangkatan menteri.
d)  Frasa adverbial
 Frasa adverbial terdiri dari adverbia sebagai induk dan adverbia lain (frasa adverbial) lain sebagai konstituen bawahan. Contoh: melakukan tugas [amat baik]; lari [sangat cepat].  

Buku Sumber
Suherlan dan Odien R., 2003. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya. Banten: Untirta Press.
Tarigan, H.G. 1983. Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: Angkasa.
Verhaar, J.W.M. 2004. Asas-Asas Lingustik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

2 komentar: