Sabtu, 03 November 2012

Kalimat: Pengertian, Ciri-ciri, dan Unsur-unsur


Kalimat: Pengertian, Ciri-ciri, dan Unsur-unsur
Pengertian kalimat
Banyak ahli yang telah mengemukakan definisi atau pengertian kalimat. Beberapa di antaranya akan penulis kemukakan sebagai berikut.
L. Bloomfiled menyatakan bahwa “A maximum X is an X which is not part of a larger X”. Dengan demikian, kalimat didefinisikan oleh Bloomfiled sebagai “a maximum form in any utterance. Trus, a sentence is a form which, in the given utterance, is not part of a larger construction”.
Lalu, Hockett (1958) memberikan pengertian kalimat sebagai “a grammatical form which is not construction with any other grammatical form: a constitute which is not constituent”.
Selanjutnya, Lehmann (1976) menyatakan bahwa kalimat adalah “a sequence of selected syntactic items combined into a unit in accordance with certain pattern of arrangement modification, and intonation in any given langunge”.
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa. (Cook, 1971: 39-40; Elson and Pickett, 1969: 82).
Pakar bahasa di Indonesia, Alisjahbana (1978) menyatakan bahwa kalimat adalah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengadung pikiran lengkap.
A.A.Fokker (1960:9), juga mengatakan: “kalimat ialah ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhanya”.
Gorys Keraf (1978:156), dimana dikatakannya: “suatu bagian ujaran, yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap disebut kalimat”.
Kridalaksana (1993) menegaskan bahwa kalimat adalah (i) satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri atas klausa; (ii) klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan preposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan yang bebas,; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya; dan (iii) konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
Alwi (2001) mengatakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran yang utuh.
Ramlan (1981:6) mengatakan: “kalimat ialah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik”.
Parera (1978:10) mengatakan: “sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas adalah kalimat”.
Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap merupakan definisi umum yang biasa dijumpai. Dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata,frase,dan klausa) bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konsituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjugsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.
Jika kita perhatikan semua definisi kalimat yang dikemukakan para ahli tersebut secara cermat, maka semua definisi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni sebagai berikut:
1)      Batasan kalimat yang memakai pendekatan makna. Menurut kelompok ini suatu satuan atau konstruksi disebut kalimat jika mengandung kelengkapan pikiran;
2)      Batasan kalimat yang memakai pendekatan intonasi. Menurut kelompok ini suatu satuan atau konstruksi disebut kalimat jika satuan atau konstruksi tersebut ditandai oleh intonasi final (akhir) yang menandai satuan atau konstruksi itu telah lengkap;
3)      Batasan kalimat yang memakai pendekatan makna dan intonasi.
Ciri-ciri kalimat
Berdasarkan definisi atau pengertian kalimat yang disampaikan para ahli, kita dapat merumuskan ciri-ciri kalimat, yaitu sebagai berikut:
1)      Sebagai satuan bahasa atau satuan gramatikal;
2)      Terdiri atas satu kata atau lebih (tidak terbatas)/terdiri atas klausa;
3)      Secara relatif dapat berdiri sendiri;
4)      Memiliki atau mengandung pikiran yang lengkap;
5)      Mempunyai pola intonasi akhir;
6)      Dalam konvensi tulis, ditandai oleh awal huruf capital dan diakhiri tanda baca (tanda titik untuk kalimat deklaratif, tanda tanya untuk kalimat interogatif, dan tanda seru untuk kalimat interjektif).
Syarat kalimat dan alat pengetesnya
Setiap saat kita bicara, setiap waktu kita berujar, atau bertutur intinya ialah menyampaikan sesuatu kepada orang lain sesuai kepentingan. Secara hakikat, baik dalam bentuk atau untaian kata, apa yang kita sampaikan kepada orang lain melalui medium bahasa bentuknya ialah pernyataan atau kalimat.
Sekaitan dengan itu, Sugono (2002) menyatakan “apakah sebuah pernyataan (lisan maupun tulisan) merupakan kalimat atau  bukan?”. Persyaratan pokok yang perlu diperhatikan ialah (i) unsur predikat; dan (ii) permutasi unsur kalimat.
Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.
Predikat sebuah kalimat dapat berwujud kata kerja (verbal) atu bukan kata kerja, yakni kata sifat, kata benda, kata bilangan dan kata keterangan.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan dan tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda Tanya (?), dan tanda seru (!). Kalau dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu:
a)      Kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja.
Contoh: Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.
b)      Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Jika dilihat dari segi makna kalimat, objek merupakan unsur yang harus hadir setelah predikat yang berupa verba transitif. Contoh: Ekspor nonmigas mendatangkan.
Jika suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat berupa verba intransitif, objek yang diperlukan lagi. Contoh: Penanaman modal asing berkembang.
Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1)      KB + KK                                : Mahasiswa berdiskusi.
2)      KB + KS                                 : Dosen itu ramah.
3)      KB + KBil                              : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
4)      KB + (KD + KB)                    : Tinggalnya di Palembang.
5)      KB1 + KK + KB2                  : Mereka menonton film.
6)      KB1 + KK + KB2 +KB3       : Paman mencarikan saya pekerjaan.
7)      KB1 + KB2                            : Rustam Peneliti.
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan:
a)      Jumlah dan jenis klausa yang terdapat pada dasar.
b)      Struktur internal klausa utama.
c)      Jenis reponsi yang diharapkan.
d)     Sifat hubungan aktor-aksi.
e)      Ada atau tidaknya unsur negatif pada frasa verba utama.
f)       Kesederhanaan dan kelengkapan dasar. (Cook, 1971: 40-47).
g)      Posisinya dalam percakapan.
h)      Konteks dan jawaban yang diberikan. (Francis, 1958: 426; Stryker, 1969: 3)

Unsur-unsur kalimat
1.      unsur atau bagian yang menjadi pokok pembicaraan, yang lazim disebut dengan istilah subjek (S). Contoh: Adik membaca buku.
2.      unsur atau bagian yang menjadi komentar tentang subjek, yang lazim disebut dengan istilah predikat (P). Contoh: Ani membeli kue.
3.      unsur atau bagian yang merupakan pelengkap dari predikat, yang lazim disebut dengan istilah objek (O). Contoh: Ibu memasak ikan.
4.      unsur atau bagian yang merupakan penjelasan lebih lanjut terhadap predikat dan subjek, yang lazim disebut dengan istilah keterangan (K). Contoh:
-    Hari ini dia datang terlambat. (keterangan waktu)
-    Dia terlambat karena hujan. (keterangan sebab)
-    Dia dipukuli orang ramai sampai babak belur. (keterangan akibat)
-    Saya akan hadir di sana. (keterangan tempat)
-    Adik menulis dengan pensil. (keterangan alat)
    

Sumber bacaan
Suherlan dan Odien R., 2003. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya. Banten: Untirta Press.
Tarigan, H.G. 1983. Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: Angkasa.
Arifin, Zaenal dan Tasai, Amran, S. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Akademika Pressindo: Jakarta.
Pateda, Mansoer. 1994. Linguistik Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 2000. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar