Minggu, 29 April 2012

Semantik


 MAKNA DENOTATIF, MAKNA KONOTATIF, DAN MAKNA AFEKTIF

1. MAKNA DENOTATIF
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut maka konseptual, makna denotasional atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain. Pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotasi ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran (Lyons, I, 1977:208). Dalam beberapa buku pelajaran, makna denotasi sering juga disebut makna dasar, makna asli, atau makna pusat.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa makna denotasi adalah makna sebenarnya yang apa adanya sesuai dengan indera manusia yang bersifat faktual. Kata yang mengandung makna denotatif mudah dipahami karena tidak mengandung makna yang rancu walaupun masih bersifat umum. Makna yang bersifat umum ini maksudnya adalah makna yang telah diketahui secara jelas oleh semua orang dan makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.

Berikut ini beberapa contoh kata yang mengandung makna denotatif:
1. Dia adalah wanita cantik
Kata cantik ini diucapkan oleh seorang pria terhadap wanita yang berkulit putih, berhidung mancung, mempunyai mata yang indah dan berambut hitam legam.
2. Nita sedang tidur di dalam kamarnya.
Kata tidur ini mengandung makna denotatif bahwa Nita sedang beristirahat dengan memejamkan matanya (tidur).
Masih banyak contoh kata-kata lain yang mengandung makna denotatif selama kata itu tidak disertai dengan kata lain yang dapat membentuk makna yang berbeda seperti contoh kata wanita yang makna denotasinya adalah seorang perempuan dan bukan laki-laki. Namun bila kata wanita disertai dengan kata malam (wanita malam) maka akan menghasilkan makna lain yaitu wanita yang dikonotasikan sebagai wanita nakal.
2. MAKNA KONOTATIF

Zgusta (1971:38) berpendapat makna konotatif adalah makna semua komponen pada kata ditambah beberapa nilai mendasar yang biasanya berfungsi menandai.
kridalaksana  (1993) “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca)”.

Makna  konotatif  adalah  makna  yang  tidak  langsung menunjukkan  hal,  benda,  atau  obyek  yang  diacunya,  biasanya mengandung  nilai rasa,  kenangan,  dan  tafsiran  terhadap  obyek lain, pemakaian makna  yang  tidak sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.

Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi, tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata seringkali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif maka akan bernilai rasa yang positif; dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif maka akan bernilai rasa negatif. Misalnya, burung garuda karena dijadikan lambang negara republik Indonesia maka menjadi bernilai rasa positif sedangkan makna konotasi yang bernilai rasa negatif seperti buaya yang dijadikan lambang kejahatan. Padahal binatang buaya itu sendiri tidak tahu menahu kalau dunia manusia Indonesia menjadikan mereka lambang yang tidak baik.
Makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tersebut. Misalnya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memiliki konotasi negatif karena binatang tersebut menurut hukum islam adalah haram dan najis. Sedangkan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas bukan islam seperti di pulau Bali atau pedalama Irian Jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti “cerewet” tetapi sekarang konotasinya positif.

Contoh-contohnya antara lain :
.
Konotasi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.
Contoh:
Konotasi positif                                    Konotasi negatif
suami istri                                              laki bini
tunanetra                                               buta
pria                                                       laki-laki
Kata  bunga  selain  bermakna  denotatif bagian  tumbuhan bakal  buah‘,  juga  akibat  asosiasi  terhadap  barang  lain memiliki makna sampingan (konotatif) seperti tampak pada contoh berikut.
1.      Dialah bunga idamanku seorang (= kekasih).
2.      Di mana ada bunga berkembang, ke sanalah banyak kumbang datang (= gadis).
Makna  kata  bunga  di  atas berubah karena dipergunakan dalam  konteks kalimat.  Oleh  karena  makna  sebuah  kata  sering tergantung  pada  konteks  kalimat  atau wacana, makna  ini  sering juga  disebut  makna  kontekstual.  Makna  kontekstual  muncul akibat  hubungan  ujaran  dan  situasi  pemakainya.  Makna  kata buaya  berubah  karena  dipakai  dalam  konteks  yang  berbeda.
Misalnya:
1.      Buaya termasuk binatang ampibi.
2.      Dasar buaya, uangku dicopetnya juga.
Berikut ini contoh lain kata yang bermakna konotatif.
1.      Jika disodori amplop, segala urusan akan beres (= uang sogokan).
2.      Bagaimanapun cerdikmu, tak dapat engkau mengisap aku  (= menipu, memeras).
3.      Dalam berbicara hendaklah kita tahu menjaga perasaan orang (= tidak menyinggung).
4.      Mendengar bunyi sirine itu aku terjaga dari tidurku (= terbangun).
5.      Dapatkah Saudara menjalankan dagangan kami ini (= menjualkan).
Contoh; :
- Para petugas gabungan merazia kupu-kupu malam tadi malam (kupu-kupu malam = WTS)
- Bu Marcella sangat sedih karena terjerat hutang lintah darat (lintah darat = rentenir)


Ragam Konotasi
Kita semua maklum bahwa seseorang itu di satu pihak berdiri sendiri dan di pihak lain adalah sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, konotasi pun ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat kolektif. Konotasi individual adalah nilai rasa yang hanya menonjolkan diri dan hanya untuk perseorangan.selanjutnya, Konotasi kolektif adalah nilai rasa yang berlaku untuk para anggota suatu golongan atau masyarakat.
            Perlu diketahui bahwa penelitian terhadap nilai rasa individual jauh lebih sulit daripada nilai rasa kolektif, sebab untuk mengetahui nilai rasa individual kita harus meneliti setiap individu baik lahir maupun batin, sejarah, perkembangan, dan aspek-aspek lainya. Berdasarkan hali itu, maka dalam pembahasan ini kita lebih menitikberatkan pada Nilai rasa kolektif.
Secara garis besarnya konotasi kolektif atau nilai rasa kelompok dapat di bagi menjadi:
a.    Konotasi baik, yang mencakup :
  1. Konotasi tinggi
Merupakan hal ang biasa terjadi bahwa kata-kata sastra dan kata –kata klasik lebih indah dan anggun terdengar olwh telingga umum.oleh karena itu, kita tidak prlu heran bahwa kata-kata seperti itu mendapat konotasi atau nila rasa tingi. Kata-kata asing pada umunya menimbulkan anggapan rasa segan, terutama bila orng kurang atau sama sekali tidak memahami maknanya, lantas memperoleh nilai rasa tinggi pula. Dibawah ini contoh kata-katanya adalah:
  • Aksi                 ‘gerakan’
  • Bahtera            ‘perahu,kapal’
  • Cakrawala       ‘lengkung langit’
  • Dirgantara       ‘udara, awang-awang’
  • Eksistensi        ‘ kehidupan’
  • Fantasi             ‘bayangan’
  • Garasi              ‘kandang mobil’
  1. Konotasi ramah
Dalam pergaulan dan pembicaraan kita sehari-hari antar sesama anggota masyarakat, biasanya kita memakai bahasa daerah ataupun dialek untuk menyatakan hal-hal yang langsung berhubungan dengan kehidupan. Dengan demikian, terjadilah bahasa campuaran yang kadang-kadang terasa lebih ramah daripada bahasa indonesia, sebab dalam hal ini kita merasa akrab dapat saling merasakan satu sama lain, tanpa terasa adanya kecanggungan dalam pergaulan. Di bawah ini contoh kata-katanya adalah:
  • Akur                ‘cocok,sesuai’
  • Berabe             ‘susah’
  • Mandek           ‘berhenti,tertahan’
  • Omong            ‘perkataan’
  • Ompreng         ‘besek kecil’
b.   Konotasi tidak baik, yang mencakup:
  1. Konotasi berbahaya
Kata-kata yang berkonotasi berbahaya ini berhubungan dengan kepercayaan masyarakat kepada hal-hal yang bersifat magis. Pada saat tertentu dalam kehidupan masyarakat, kita harus berhati-hati mengucapkan suatu kata agar jangan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dan hal-hal yang mungkin mendatangkan marabahaya.dengan kata lain adalah tabu mengucapakan beberapa kata pada saat-saat tertentu. Contoh kata-katanya adalah :
  • Ular                 disebut                        tali;ikat pinggang raja sulaiman
  • Tikus                disebut                        putri
  • Pencuri            disebut                        panjang tangan
  1. Konotasi tidak pantas
Dalm kehidupan sehari-hari terdapat sejumlah kata yang jika diucapkan tidak pada tempatnya, kata-kata tersebut mendapat nilai rasa tidak pantas, dan si pembicara akan mendapat malu, diejek, dicele oleh masyarakat atau keluarganya sebagai orang yang ‘kurang sopan’. Pemakaian atau pengucapan kata-kata yang berkonotasi tidak pantas ini dapat saja menyinggung perasaan, terlebih bila orang yang mengucapkan lebih rendah martabatnya daripada teman bicara artau objek pembicara itu. Contoh kata-katanya adalah :
  • Beranak           bersalin
  • Bunting           hamil,mengandung
  • Engkau            anda
  • Mampus          meninggal,berpulang
  1. Konotasi kasar
Adakalnya kata-kata yang dipakai oleh rakyat jelata terdengar kasar dan mendapat nilai rasa kasar. Biasanya kata-kata seperti itu berasal dari suatu dialek. Contoh kata-katanya adalah :
  • Jambret            ‘copet,rebut’
  • Kacung            ‘jongos’
  • gua                  ‘saya’
  • hajar                ‘pukul’
  • ngaco               ‘berkata tidak karuan’            
  1. Konotasi keras
Untuk melebih-lebihkan suatu keadaan, kita bisa memakai kata-kata atau ungkapan-ungkapan. Ditinjau dari segi arti, hal itu dapat disebut Hiperbola, dan dari segi nilai rasa atau konotasi dapat disebut konotasi keras. Contoh dalam kalimat  “saudagar itu sangat kaya”. Ungkapan itu dapat kita ganti dengan “saudagar itu uangnya berpeti-peti”, walaupun dalam kenyatanya uangnya tidaklah berpeti-peti. Contoh kata-katanya adalah :
  • Jurang kematian
  • Hidup enggan mati tak mau
  • Berjalan di atas bara kehidupan
  • Indahnya tak terlukiskan degan kata-kata
  • Sulitnya setengah mati
c.    Konotasi netral atau biasa, yang mencakup:
  1. Konotasi bentukan sekolah
Dalam bahasa inggris, konotasi bentukan sekolah ini disebut Conotation of learned form. Harus kita sadari bahwa batas antar nilai rasa bentukan sekolah dengan nilai rasa biasa sangat kabur. Akan tetapi, karena frekuensinya agak luas maka dapat dikatakan bahwa setiap nilai rasa bisa mempunyai kesejajaran dengan nilai rasa yang dipelajari atau dinilai rasa bentukan sekolah. Mari kita ambil contoh dari kehidupan sehari-hari. Apabila orang biasa mengatakan :
Saya datang tengah hari.
Maka orang terpelajar yang telah berkecimpung di sekolah beberapa tahun belajar, akan mengatakan :
Saya datang pukul 12.00 tepat siang.-
Kalimat terakhir inilah yang disebut konotasi bentukan sekolah.
  1. Konotasi anak-anak
Nilai rasa kanak-kanak ini bisa terdapat dalam dunia anak-anak, tetapi merupakan suatu kenyataan bahwa orang tua pun sering pula mempergunakanya. Dalam bahasa inggris, konotasi kanak-kanak ini disebut infantile connotation. Contoh kata-katanya adalah :
  • Papa                ‘papa,ayah’
  • Mama              ‘emak,ibu’
  • Mimi                ‘minum'
  1. Konotasi Hipokoristik
Dalam bahasa inggris biasa disebut pet-name or hypochoristic connotation dan terutama dipakai dalam dunia anak-anak, yaitu sebutan nama anak-anak yang dipendekkan lalu diulang. Contoh kata-katanya adalah :
Lolo, Lili, Lala, Nana, Mimi, Dede, Aa, Uu
  1. Konotasi bentuk Nonsen
Dalam bahasa inggris disebut dengan istilah Connotation of nonsense-form. Beberapa di antaranya, meskipun sudah lazim dipakai, sama sekali tidak mengandung arti. Contoh kata-katanya adalah :
tra-la-la, pam-pam-pam, na-nana-nana, tri-li-li.

3. MAKNA AFEKTIF

Makna afektif (Inggris: affective meaning, Belanda: afektif betekenis). Merupakan makna yng muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan kata atau kalimat. Oleh karena makna afektif berhubungan dengan reaksi pendengar atau pembaca dalam dimensi rasa, maka dengan sendirinya makna afektif berhubungan pula dengan gaya bahasa. karena  itu, makna  afektif disebut juga makna emotif. Makna  afektif  berhubungan  dengan  perasaan  pribadi penyapa  baik  terhadap  pesapa  maupun  obyek  pembicaraan. Dalam makna afektif terlihat adanya reaksi yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca setelah mendengar atau membaca sesuatu.Perasaan yang muncul dapat positif atau negatif. Kata jujur, rendah hati, dan bijaksana menimbulkan makna afektif yang positif, sedangkan korupsi dan kolusi menimbulkan makna afektif  yang negatif. Makna  ini  lebih  terasa  dalam  bahasa  lisan  daripada  bahasa tulisan.  Misalnya,  makna  kata  anjing dalam  kalimat  berikut memiliki nilai emosi yang berbeda.
Contoh makna afektif antara lain :

  • Misalnya; seseorang yang sedang membaca sebuah berita di koran tentang pembunuhan mutilasi seorang mahasiswa, contoh kalimatnya “ Rani seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta menjadi korban kekejaman para preman jalanan. Setelah tubuh Rani dimutilasi mayatnya dibuang ke sungai dan harta bendanya dirampas.” Setelah pembaca itu membacanya ada rasa kasihan, dalam benak pembaca akan timbul pertanyaan- pertanyaan yang berkaitan dengan rasa kasihannya terhadap korban dan rasa benci atas kekejaman pelaku mutilasi itu.
1.       Anjing itu bulunya hitam.
2.      Anjing kamu, mampuslah!
Kata  anjing  pada  kalimat  (1)  menunjukkan sejenis  hewan‘,  tetapi  pada  kalimat  (2)  menunjukkan orang  yang dianggap  rendah,   Dengan kata lain, kata anjing memiliki makna yang berkaitan dengan nilai rasa yaitu kata anjing berhubungan dengan penghinaan dan disamakan  martabatnya  dengan anjing‘.Sebaliknya kalau ada orang berkata, “Rini gadis yang rajin dan pandai menari,“ pendengar akan mereaksi baik dengan mengatakan “Hebat sekali anak itu” kata rajin dan pandai mempunyai makna afektif yang berhubungan dengan kata sifat yang positif.

Makna afektif terkadang bisa menimbulkan suatu rasa dalam benak para pendengar atau pembaca. Karena makna afektif berhubungan dengan nilai  rasa atau emosi  pemakai  bahasa,  maka  ada  sejumlah  kata  yang  secara konseptual bermakna sama, tetapi secara emosional memiliki nilai rasa  yang  berbeda.  Kata-kata  itu  biasanya  terasa  kurang  enak didengar,  kasar,  keras,  tinggi,  dan  ramah.
Makna afektif dapat dibedakan antara lain :
a)      makna afektif  tinggi,
b)      makna afektif ramah,
c)      makna afektif kasar.

a.      Makan Afektif Tinggi
Makna  afektif  tinggi  biasanya  terdapat  dalam  kata-kata sastra, klasik, danasing. Misalnya:
1.      aksi    =  gerakan
2.      aktif    =  giat
3.      bahtera  =  perahu, kapal
4.      bandar    =  pelabuha
5.      cakrawala  =  lengkung langit
6.      ceramah  =  pidato
7.      dirgantara  =  udara
8.      drama   =  sandiwara
9.      eksistensi  =  kehidupan, keberadaan
10.  fantasi    =  bayangan, khayalan
11.  figur       =  tokoh
12.  garasi   =  kandang mobil
13.  geografi  =  ilmu bumi
14.  hadiah    =  pemberian
15.  harta    =  kekayaan
16.  imajinasi  =  angan-angan
17.  kalbu    =  hati
18.  kampiun         =  juara
b.      Makna Afektif Ramah
Makna  afektif  ramah  biasanya  dipergunakan  dalam pergaulan  kita  sehari-hari  antara  sesama  anggota  masyarakat. Makna ini bisa berada pada bahasa atau dialek yang dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian,  terjadilah bahasa campuran  yang  kadang-kadang  terasa  lebih  ramah  daripada bahasa  Indonesia  resmi  karena  dalam  hal  ini  kita  merasa  lebih akrab  tanpa  terasa  adanya  kecanggungan  dalam  pergaulan.
Misalnya:
1.      akur      =   cocok, sesuai
2.      berabe      =   susah
3.      cialat      =   celaka
4.      cicil      =   angsur
5.      dicopot    =   dipecat
6.      digunduli    =   dikalahkan
7.      hantam    =   pukul
8.      ngobrol    =   bercakap-cakap
9.      meleset    =   salah
10.  penasaran    =   sangat berkehendak
11.  pusing      =    susah, repot
c.       Makna Afektif Kasar
Makna afektif kasar biasanya berada dalam kata-kata yang berasal  dari  bahasa  daerah  atau dialek  yang  dirasakan  kasar.
Misalnya:
1.      algojo     =   tukang pukul
2.      anak keparat    =   anak celaka
3.      babu      =   pembantu rumah tangga
4.      gua      =   saya
5.      hajar      =   pukul
6.      jambret    =   copet, rebut
7.      jagoan      =   suka berkelahi
8.      kacung    =   jongos
9.      mampus    =   mati
10.   ngaco      =   berkata tidak karuan

Perbedaan Makna Denotasi dan Makna Konotasi

Makna denotatif suatu kata seringkali diperluas atau direntangkan dengan makna konotatifnya-suatu makna yang ditambahkan atau suatu makna tambahan yang dinyatakan secara tidak langsung oleh kata tersebut. Sebagai lawan dari denotasi maka konotasi suatu kata merupakan lingkaran gagasan dan perasaan yang mengelilingi kata tersebut, serta emosi yang ditimbulkan oleh kata tersebut. Kita dapat melihat dengan jelas perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam sinonim suatu kata tertentu. Setiap sinonim bagi kata Penjara berikut ini mengandung suatu konotasi tertentu.
Penjara : tutupan, tahanan, lembaga pemasyarakatan, bui, terungku,kurungan.
Begitu pula dapat kita lihat bahwa makna konotatif ini dapat juga mengandung berbagai ragam pengalaman dalam kehidupan. perhatikanlah baik-baik bahwa setiap sinonim bagi laki-laki berikut ini mengandung konotasi khusus sebagai tambahan terhadap denotasinya.
Laki-laki: pria, suami, ayah, putra, pakcik, paman, saudara, jejaka, kakek, duda, cowok, jantan, bujang, tuan.
Berdasarkan pembicaraan di atas, jelaslah bahwa kita bila berbicara mengenai penggunaan kata yang tepat maka konotasi dan denotasi pun tidak sama. Perbedaanya adalah sebagai berikut:
Denotasi adalah makna kata, sedangkan konotasi adalah pancaran impresi-impresi yang tidak dapat dirasa dan tidak dapat dinyatakan secara jelas. Konotasi juga berarti segala sesuatu yang kita pikirkan apabila kita melihat kata tersebut, yang mungkin dan tidak mungkin sesuai dengan makna sebenarnya.
Mari kita ambil contoh langsing dan kurus. Arti pusat kedua kata jelas sama, tetapi dalam hubunganya dengan manusia, kedua kata itu mengacu atau menunjuk kepada seseorang yang mempunyai berat yang kurang. Konotasi kedua kata tersebut jelas berbeda. Menjadi orang yang langsing jelas menjadi idaman, impian, dan keinginan orang dalam masyarakat; sedangkan menjadi kurus jelas tidak diinginkan orang, karena hal itu mengandung konotasi negatif, kurang gizi, dan kurang mengurus badan (kelsch&kelch, 1981:79-80).
Selanjutnya ada pula ahli yang membuat keterangan serta perbedaan antara Denotasi dan Konotasi sebagai berikut :
  • “denotasi adalah batasan kamus atau definisi utama suatu kata, sebagai lawan dari konotasi-konotasinya atau makna-makna yang ada kaitanya dengan itu.”
  • “Konotasi adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi biasanya yang bersifat emosional-yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya.” (Warriner(et el),1977:602).
Ditinjau dari segi pemakaianya dalam karya tulis pun  ada perbedaan antara Denotasi dan Konotasi ini, antara lain:
  1. Karya tulis yang bersifat ilmiah pada umumnya mempergunakan karta-kata yang bersifat denotatif; sedangakan
  2. Karya tulis yang bersifat ilmiah pada umumnya mempergunakan karta-kata yang bersifat konotatif.
Jika makna konotasi banyak dijumpai pada hasil karya fiksi, maka pengertian makna denotatif banyak Anda jumpai pada karya tulis nonfiksi. Kata-kata yang dipergunakan adalah sesuai dengan arti yang diharapkan oleh penulis. Tidak ada pembiasan, bahkan jika terjadi, maka kata-kata tersebut masuk dalam kelompok kata tidak efektif. Kata-kata yang bermakna Denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna Konotatif wajar digunakan dalam karya sastra.
Perhatikan contoh berikut ini.
(a) Anton menjadi kambing hitam dalam kasus tersebut.
(b) Anton membeli kambing hitam kemarin sore.

Makna Konotasi

Kata “kambing hitam” pada kalimat (a) tidak diartikan sebagai seekor hewan (kambing) yang warnanya hitam. Karena, jika diartikan demikian, makna keseluruhan kalimat tersebut tidak logis atau tidak dapat dipahami. Makna kata “kambing hitam” pada kalimat (a) adalah tersangka dalam suatu perkara yang tidak dilakukan. Makna “kambing hitam” pada kalimat (a) inilah yang disebut dengan makna konotasi
Makna Denotasi
Berbeda halnya dengan kalimat (a),”kambing hitam” pada kalimat yang (b) memiliki makna seekor hewan (kambing) yang warnanya hitam. Makna “kambing hitam” pada kalimat (b) inilah yang disebut dengan makna denotasi.  
  1. Sedangkan makna denotasi adalah makna sebenarnya yang terdapat pada kata tersebut. Atau secara singkat makna denotasi diartikan sebagai makna sebenarnya. Makna sebenarnya yang dimaksud adalah makna dasar kata yang terdapat dalam kamus (KBBI).
  2. Secara singkat makna konotasi dapat diartikan sebagai makna tidak sebenarnya pada kata atau kelompok kata. Oleh karena itu, makna konotasi sering disebut juga dengan istilah makna kias. Lebih lanjut, makna konotasi dapat dijabarkan sebagai makna yang diberikan pada kata atau kelompok kata sebagai perbandingan agar apa yang dimaksudkan menjadi jelas dan menarik.


Bahwa setiap kata mempunyai arti masing-masing. Arti dari setiap kata tersebut jika dirangkai menjadi satu kalimat, maka kalimat tersebut memberikan arti tersendiri. Pengertian Makna sebuah kata tergantung cara Anda mengapresiasi isi dari kata atau kalimat. Pengertian ini sangat penting agar terjadi komunikasi efektif dari narasumber dengan pembaca atau pendengarnya.Seperti telah diketahui, dalam bahasa Indonesia sebuah kata dapat mempunyai kemungkinan dua makna, yaitu konotasi dan denotasi. 
Makna konotasi adalah makna kiasan dan makna denotasi adalah makna sesungguhnya dari semua kata atau kalimat. Dengan memahami pengertian makna denotasi, Anda dapat mengetahui isi atau tujuan yang hendak disampaikan oleh penulis kepada pembacanya.

 DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Semantik.Bandung: Angkasa
Aminudin,1988.Semantik. Bandung: Sinar Baru.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cahyono, Bambang Yudi. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.










 







CONTOH MAKNA KONOTASI & DENOTASI
1.BUAH TANGAN
*MK= Andi membawa buah tangan dari Jakarta.
*MD= Saya membawa oleh-oleh dari kampung halaman.
2. PANJANG TANGAN
*MK= Orang itu ditangkap polisi karena panjang tangan.
*MD= Polisi menangkap seorang pencuri di pasar.
3.BUAH BIBIR
*MK= Anti menjadi buah bibir karena malas kesekolah.
*MD= Dimas jadi bahan pembicaraan di rumahnya karena kenakalannya.
4. BERBADAN DUA
*MK= Ibu Mia sering makan rujak karena sedang berbadan dua.
*MD= Perut ibu saya sudah mulai membesar karena sedang hamil tiga bulan.
5. TANGAN KANAN
*MK= Ayah saya ditunjuk sebagai tangan kanan oleh bosnya di kantor.
*MD= Pak Andi adalah orang kepercayaan di kantornya.
6. KAMBING HITAM
*MK= Orang itu selalu dijadikan kambing hitam jika ada masalah.
*MD= Andi selalu di jadikan pokok permasalahan jika ada masalah padahal belu tentu dia yang bersalah.
7. SIJANTUNG HATI
*MK= Sherly mencari sijantung hatinya yang tak kunjung kembali.
*MD= Emi sedih karena sang kekasihnya pergi meninggalkannya.